Sapi Kurban Amanah Bersama
Jual Sapi Kurban Paling Lengkap & Terpercaya

Yearly Archives: 2012

Page 1 of 512345

Pesan Sosial dalam Ibadah Kurban

Pesan Sosial dalam Ibadah Kurban.Allah Maha Besar, Segala puji  bagi Allah seru sekalian alam. Teriring salam dan salawat semoga tercurahkan  untuk baginda  Rasul Muhammad SAW.

Allah SWT telah berfirman di dalam Alquran  yang artinya , “Maka solatlah untuk Rabbmu dan sembelihlah hewan.” (Qs. Al Kautsar: 2). Syaikh Abdullah Alu Bassaam menyatakan, “Sebahagian ulama ahli tafsir menyatakan,  yang dimaksud dengan menyembelih hewan adalah menyembelih hewan / sapi kurban setelah solat Iedul Kurban /Iedul Adha.” Pendapat ini dinukil dari Qatadah, Atha’ dan Ikrimah (Taisirul ‘Allaam, 534, Taudhihul Ahkaam IV/450, & Shahih Fiqih Sunnah II/366).

Kemudian Dalam istilah ilmu fiqih hewan sapi kurban biasa disebut dengan nama Al Udh-hiyah yang bentuk jamaknya Al Adhaahi. Kurban antara ritual dan sejarah Pengertian Udh-hiyah Kurban (Bahasa Arab: قربن, transliterasi: Kurban), atau disebut juga Udh-hiyah atau Dhahiyyah secara harfiah berarti hewan sembelihan. Sedangkan ritual kurban adalah salah satu ritual ibadah pemeluk agama Islam, dimana dilakukan penyembelihan binatang ternak untuk dipersembahkan kepada Allah. Ritual kurban dilakukan pada bulan Dzulhijjah pada penanggalan Islam, yakni pada tanggal 10 (hari nahar) dan 11,12 dan 13 (hari tasyrik) bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha.

Hal senada sebagaimana pendapat Shohibul Al Wajiz, dan Shahih Fiqih Sunnah Udh-hiyah adalah hewan ternak yang disembelih pada hari Iedul Adha dan hari Tasyriq dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah karena datangnya hari raya tersebut (lihat Al Wajiz, 405 dan Shahih Fiqih Sunnah II/366) Pada dasarnya dilihat dari sejarah, ibadah kurban telah dilakukan ketika manusia pertama yaitu Nabi Adam hadir di dunia. Pada waktu itu Allah memerintahkan kepada dua orang anak nabi Adam untuk melakukan ritual kurban. Salah satu anak nabi adam yaitu habil, memberikan persembahan terbaik untuk dikurbankan, sedangkan kobil mendatangkan hasil dari pertaniannya yang sudah rusak dan busuk yang menunjukan ketidak ikhlasannya dalam melakukan ritual kurban yang diperintahkan Allah, yang menyebabkan tidak diterimanya kurban yang dilakukannya, sedangkan yang diterima adalah ritual kurban yang dilakukan habil, dan apa yang dilakukan habil menunjukan keikhlasan dalam melaksanakan perintah kurban yang menjadikan kurbannya diterima disisi Allah.

Selain itu, Ibadah Kurban ini juga dikenal oleh umat Yahudi untuk membuktikan kebenaran seorang nabi yang diutus kepada mereka, sehingga tradisi itu dihapuskan melalui perkataan nabi Isa bin Maryam. Begitu juga persembahan manusia ini dikenal oleh tradisi agama pada masa Mesir kuno, India, Cina, Irak dan lainnya. Tradisi keagamaan dalam sejarah peradaban manusia yang beragam juga mengenal persembahan kepada Tuhan ini, baik berupa sembelihan hewan hingga manusia Namun pelaksanaan kurban yang dilakukan oleh kedua anak Nabi Adam dan atau cerita kurban Yahudi, mesir kuno tersebut bukan merupakan landasan disyariatkannya penyembelihan hewan kurban dalam Islam, tapi landasannya adalah sejarah  kurban Nabi Ibrahim AS. melalui sebuah mimpia. Allah telah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya dari Siti Hajar yaitu Nabi Ismail.

Peristiwa ini merupakan gambaran cinta yang tulus dan ketaatan yang tinggi seorang hamba kepada Rabbnya sampai merelakan anaknya sendiri untuk dikurbankan demi menjalankan perintah Rabbnya, karena ia sendiri yakin bahwa Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang dan Allah Maha Adil sehingga ia yakin bahwa Allah tidak akan mencelakakan dan mendhalimi hamba-Nya. Dan semua itu terbukti, ketika Nabi Ibrahim bersiap-siap untuk menyembelih anaknya, seketika Allah mengirimkan seekor qibas yang menggantikan Nabi Ismail. Kisah ini diceritakan dalam Alqur’an surat Ash-Shaaffaat ayat 102 – 109 : “Maka tatkala sang putra itu berumur dewasa dan bisa berusaha bersama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku, sesungguhnya aku bermimpi aku menyembelihmu, maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!”. Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya, Kami berseru dan memanggilnya: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah meyakini mimpi kamu itu. Sesungguhnya demikianlah, Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar merupakan ujian yang nyata. Dan Kami tebus putra itu dengan seekor (kambing) sembelihan yang besar. Dan Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian.kesejateraan dilimpahkan atas Ibrahim”. (QS. Ash-Shaaffaat, ayat 102-109).

Dalam ayat tersebut, kita dapat melihat nabi Ibrahim as. Menyampaikan mimpi itu kepada anaknya. Ini agaknya karena beliau memahami bahwa perintah tersebut tidak dinyatakan sebagai harus memaksakannya kepada sang anak. Yang perlu adalah bahwa ia berkehendak melakukannya. Bila ternyata sang anak membangkang, maka itu adalah urusan ia dengan Allah, demikian ungkap Quraish Shihab dalam tafsirnya. Dan nabi Ibrahim telah memberikan contoh kepada kita betapa harus senantiasa komunikasi antara sang ayah dengan anaknya dalam menyatukan persepsi dan paradigma sebelum bertindak.

Apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim untuk menjalankan perintah Allah tersebut bukan berarti tidak ada hambatan. Musuh terbesar ummat manusia yaitu setan dan iblis selalu berusaha mengodanya, namun beliau tetap tegar dan bersabar, lalu beliau melempari setan dan iblis dengan batu-batu kerikil, yang akhirnya kisah ini masuk kedalam rangkaian pelaksanaan ibadah haji disaat idul kurban yang terkenal dengan sebutan melempar jumroh. Itulah kecintaan dan ketaatan Nabi Ibrahim kepada Rabbnya yang dibuktikan dengan menjalankan perintah-perintah Allah walaupun perintah tersebut sangat berat dan harus mengorbankan seorang anak yang dicintainya. Itulah ujian yang Allah berikan kepada Nabi Ibrahim untuk memperlihatkan kepada kita tentang kecintaan dan ketaatannya kepada Allah melebihi kecintaannya kepada materi dan keduniaan, baik itu harta, anak ataupun istri. Sebelumnya Allah juga telah menguji Nabi Ibrahim yang sudah berusia lanjut namun belum juga dikaruniai seorang anakpun. Akhirnya sang istri, yaitu Sarah menyarankan suaminya untuk menikah lagi. Kemudian menikahlah Nabi Ibrahim dengan Hajar, seorang wanita shalihah yang dipilihkan oleh Sarah. Tidak lama setelah itu hajarpun hamil, yang diikuti dengan hamilnya Sarah, istri pertama Nabi Ibrahim. Saat-saat yang ditunggu Nabi Ibrahim pun akhirnya terwujud dengan lahirnya Nabi Ismail. Namun ujian Allah terhadap hambanya yang shaleh Nabi Ibrahim tidak sampai disitu. Setelah kelahiran Nabi Ismail Allah menguji Nabi Ibrahim dengan memerintahkannya untuk pergi meninggalkan istri dan anaknya yang masih mungil disebuah daerah yang sangat gersang, yaitu lembah Baka (lembah air mata). Lembah tersebut adalah lembah yang terkenal dengan kegersangannya dan tidak ada sebatang pohonpun yang tumbuh serta tidak ada air. Sehingga dikatakan bahwa setiap orang yang ada dilembah tersebut pasti akan menangis. Maka disebutlah lembah tersebut dengan lembah baka yang artinya lembah air mata. Dalam suatu riwayat dikatakan bahwa Hajar bertanya kepada Ibrahim sampai tiga kali, perihal ditinggalkannya ia dan anaknya di lembah tersebut. Hajar berkata,”Wahai Suamiku, apakah yang engkau lakukan ini perintah Allah “.Nabi Ibrahim menjawab “Benar, ini adalah perintah Allah”. Hajar menjawab dengan tegas tanpa keraguan sedikitpun. “Kalau memang ini perintah Allah , tinggalkanlah kami . Karena Allah pasti akan menyelamatkan hamba-Nya dan tidak akan menyengsarakannya”. Kemudian berjalanlah Ibrahim meninggalkan orang-orang yang dicintainya. Namun, kecintaan Ibrahim terhadap mereka, menghentikan langkahnya seraya berdo’a dan bermunajat kepada Allah …sang khalik yang lebih mencintai hamba-Nya.

Do’a ini diabadikan dalam Al Qur’an, “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdo`a: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”. (Al-Baqarah: 126). Sedangkan tempat berdirinya Ibrahim menjadi maqom Ibrahim dekat Baitullah. Setelah ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim, Nabi Ismail kecil mulai menangis dibawah terik matahari karena kehausan dan kepanasan. Hajar sebagai seorang ibu, berusaha untuk mencarikan air bagi anaknya.Hajar kemudian berlari-lari kecil antara dua bukit shafa dan marwah. Perjuangan Hajar ini diabadikan dalam prosesi sa’i. Prosesi sa’i merupakan simbol kasih sayang dan kecintaan seorang Ibu terhadap anaknya. Itulah kisah keluarga Nabi Ibrahim yang mendapatkan berbagai ujian dari Allah dan mereka mampu bersabar dalam ujian tersebut. Itulah kesholehan sang Nabi Ibrahim, yang kesholehan tersebut tidak hanya dimilikinya sendiri, tapi juga dimiliki oleh anak dan istrinya, sehingga kesabaran dalam menghadapi ujian tidak hanya dihadapinya sendiri, tapi dihadapi oleh sekeluarga. Dan ujian yang terberat adalah ujian penyembelihan Nabi Ismail yang peristiwa ini diabadikan dengan ritual ibadah kurban yang dilakukan oleh segenap kaum muslimin diseluruh dunia.

Makna sosial kurban Setiap yang dititahkan (disyria’atkan) Allah tentulah memiliki makna sosial, tak terkecuali ibadah kurban. Selain memiliki makna ritual, ibadah kurban juga mengandung makna sosial. Oleh karenanya, umat Islam yang merayakan idul Kurban seharusnya berupaya menggali makna yang terkandung didalam ibadah kurban, supaya tidak hanya sebatas ritual yang miskin makna, akan tetapi ada nilai-nilai luhur dan sosial yang dapat diimplementasikan. Diantara makna sosial yang terkandung didalam ritual kurban adalah:

Pertama, Ketundukan Ibrahim kepada tuhannya membawa pesan moral kepada kita untuk senantiasa taat dan patuh terhadap aturan dan Undang-undang yang telah digariskan dalam Al-Kitab dan Sunnah nabi. Dan juga patuh terhadap rambu aturan dan Undang-undang hukum yang ada sebagai warga negara yang baik.

Kedua, Dibebankannya ibadah haji ini bagi umat Islam yang mampu dan mendistribusikan dagingnya kepada kaum lemah menyiratkan pesan substansial kepada kita agar selalu bersemangat membantu meringankan penderitaan orang lain. Bantuan tidak hanya sebatas materi, melainkan ide tenaga atau fikiran yang dapat meringankan dan penyelesaian problematika hidupnya. Oleh karena itu secara substansial  seseorang belum dapat disebut  telah berkurban, jika didalam dirinya belum tumbuh semangat berkurban dan membantu penderitaan orang lain.

Ketiga, Pesan Sosial dalam Ibadah Kurban juga tentang menyembelih hewan kurban berarti menyembelih sifat-sifat kebinatangan seperti egois, serakah, rakus, menindas, tidak mengenal aturan, norma atau etika dan bertengkar bahkan membunuh hanya demi keuntungan sesaat, memperkaya diri sendiri, korupsi, menindas yang lemah dan arogan. Hal ini menunjukan bahwa kurban yang dilakukan berdampak mampu memberikan kontribusi dan penyadaran untuk memperbaiki diri dan menata tatanan sosial yang baik.

Keempat, Disunnahkan menggemakan takbir sampai waktu Ashar di akhir hari Tasyrik (Tanggal 13 Dzulhijjah) memperlihatkan kepada kita bahwa hanya Allah-lah yang memiliki kekuasaan agung dan absolut. Oleh karenanya, tidaklah patut para pejabat negara, elite politik, elite kekuasaan dan manusia kaya, bertindak semena-mena terhadap manusia lain serta berjalan dimuka bumi dengan congkak.

Pesan Sosial dalam Ibadah Kurban / pemaknaan seperti inilah yang memberikan semangat atau spirit dari esensi dan substansi yang akan menemukan relevansinya dengan kondisi lingkungan dan bangsa kita yang sedang didera dan diterjang banyak bencana dan kririsis multidimensi disegala sektor, Pemerintah, ekonomi, sosial edukasi dan sebagainya.

Semoga Allah memberi  jalan rahmat kepada kita semua. Memberi kan rahmatnya kepada kita semua. Selamat Hari Raya Idul Adha 1433 H. Semoga kurban kita semua menjadi ibadah yang hakiki dalam kontek ritual maupun sosial.

Disadur dan dipublish kembali dari :

 

source : http://www.pstkhzmusthafa.or.id/pesan-sosial-ibadah-qurban/

 

Pesan Sosial dalam Ibadah Kurban

Tips Mendapat Sapi Kurban yang Sehat dan Kuat

Kali ini penulis memberi bocoran Tips Mendapat Sapi Kurban yang Sehat dan Kuat. Karena apa ? karena untuk ibadah kurban kita tidak boleh main-main dan tidak sembarangan . Kita ingin agar hewan kurban kita diterima oleh Allah SWT sebagai amal ibadah yang terbaik yang pernah kita lakukan.

Tentu saja kita selain kita harus ikhlas melakukannya, dari sumber keuangan yang halal, kita juga harus pandai menaksir dan memilih hewan kurban sapi yang sehat dan kokoh agar nilai manfaatnya besar dan pasti ingin hewan kurban kita diterima oleh Allah SWT.Tips Mendapat Sapi Kurban yang Sehat dan Kuat

Tips Mendapat Sapi Kurban yang Sehat dan Kuat agar berkah

Tips Mendapat Sapi Kurban yang Sehat dan Kuat dari penjual sapi kurban

Pastikan  hewan kurban diutamakan sudah diperiksa oleh petugas yang berwenang tidak terjangkit atau ter deteksi penyakit anthrax. Untuk meyakinkan bahwa hewan kurban tersebt sudah diberikan stiker khusus yaitu tanda hewan tersebut sehat dan memenuhi syarat untuk dijadikan hewan kurban.

Selanjutnya adalah melihat ciri-ciri hewan kurban yang sehat yang harus dilakukan dengan teliti. Insayallah dengan kita hati-hati dalam membeli hewan kurban , maka insyaallah ibadah kurban diterima oleh Allah SWT.

Tips yang penulis sampaikan insyaalah bisa dilakukan oleh kita sendiri, tanpa perlu keahlian khusus. Meskipun demikian tidak ada jaminan hewan yang beli adalah hewan yang sehat, karena banyak sekali penyaki hewan yang tidak bisa dilihat dari penampakan luar hewan. Akan lebih aman jika anda didampingi oleh dokter hewan atau petugas kesehatan hewan.oleh karena itu, sekali lagi pastikan sudah dilabeli oleh petugas yang berwenang.

Demikian pula hewan yang mempunyai tanda-tanda yang saya sebutkan diatas belum tentu tidak bisa digunakan sebagai hewan kurban. Biasanya untuk kasus diare, dan demam ditunggu sampai hewan tersebut kembali sehat baru digunakan sebagai hewan kurban.

Itulah Tips Mendapat Sapi Kurban yang Sehat dan Kuat yang dapat penulis sampaikan. Kami dari “Amanah bersama” menjual Sapi Qurban dengan kualitas terbaik dan harga bersaing.

Salah Kaprah Dalam Ibadah Kurban

Sebagai mana diketahui bersama bahwa ibadah Kurban adalah kegiatan penyembelihan hewan yang dilaksanakan  pada hari raya idul kurban  dan tiga hari kemudian pada tanggal 10-13 Dzulhijah (hari tasyrik) sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT. Ibadah kurban dilakukan bertujuan untuk menggembirakan kaum fakir miskin, sama halnya pada hari Idul Fitri dimana kaum fakir miskin digembirakan dengan adanya zakat fitrah.

Ibadah Kurban hukumnya adalah sunah bagi yang tidak mampu dan wajib bagi yang mampu. Dalam QS Al-Kautsar 1-2 disebutkan bahwa kurban dianggap “sejajar” dengan sholat. Apabila kita sudah diberi nikmat (mampu) kita diperintahkan untuk berkurban. Selain itu, nadzar untuk berkurban juga bisa menjadikan kurban sebagai wajib walaupun sebenarnya belum bisa dikatakan mampu.

Dalam hal apakah seseorang dikatakan mampu atau tidak adalah menurut hadist berarti umat Islam yang cukup baligh dan berakal. Dan dari segi materi berarti mempunyai penghasilan melebihi nisab sebesar 93,6 gram emas atau sekira Rp 20 juta per tahun atau Rp 1,6 juta per bulan).

Namun dalam perjalannya  kurban telah mengalami banyak pergeseran yang mungkin sudah tidak sesuai dengan tuntunannya.Hal-hal berikutnya yang menjadi dasar pertimbangannya

1.Dilakukannya Pesta Daging Besar-besaran

Fenomena yang terjadi saat ini, kurban bukan untuk menggembirakan fakir miskin, melainkan menjadi pesta daging besar-besaran. Yang jamak terjadi, daging kurban dibagikan kepada semua warga. Tak jarang seorang warga bisa mendapat jatah dobel. Si bapak sebagai shohibul dapat jatah, anaknya yang menjadi panitia mendapat bagian, istrinya yang membantu memasak juga dapat bagian. Belum lagi rumah mereka yang ada di perbatasan sehingga dapat jatah dari kelurahan A dan kelurahan B.

Padahal, dalam QS Al-Hajj 28 disebutkan dengan sangat jelas, “Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.” Kalau seluruh warga adalah fakir miskin, tidak masalah. Namun kalau tidak, tentu ini sudah menyalahi firman.

Dalam suatu hadist, disebutkan bahwa shohibul kurban berhak mendapat 1/3 bagian. Namun, karena kurban adalah soal keikhlasan dan shohibul kurban sehari-harinya (dianggap) sudah terbiasa makan daging, maka alangkah baiknya bila seluruh daging kurban diserahkan saja kepada fakir miskin.

2.Panitia Mendapat Bagian daging kurban

Seperti sudah ditulis di atas, QS Al-Hajj 28 menyatakan bahwa orang yang berhak memakan daging kurban hanya fakir miskin dan orang yang berkurban. Panitia tidak mendapat hak atas daging kurban. Bandingkan dengan zakat. Dalam QS At-Taubah 60 disebutkan bahwa pengurus zakat berhak mendapat bagian.

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.”

Karenanya, alangkah lebih baik bila panitia, penyembelih, dan pengurus yang terlibat dalam kegiatan tersebut tidak meminta bayaran karena semua merupakan hak fakir miskin. Bagian panitia bisa saja diambilkan dari bagian shohibul, tetapi dengan ijin. Atau, saweran saja di antara para shohibul untuk memberi “uang lelah” kepada panitia.

Kurban Atas Nama

Seringkali kita melihat kurban yang dilakukan dengan mengatasnamakan anak, istri, atau orang tua. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan mengatasnamakan kurban untuk anak atau istri—-asalkan mereka mampu.

Lagipula, berkaca pada cerita Nabi Ibrahim, kerjasama antara beliau, istrinya, dan Ismail, menunjukkan bahwa kurban bukan ibadah “sendirian.” Apabila dilakukan dengan ikhlas dan benar, insya Allah semua anggota keluarga juga ikut mendapatkan pahala.

Bagaimana dengan orang tua? Apabila orang tua belum mampu, maka anak harus “memampukan” orang tua, dengan cara memberikan sebesar nisab plus zakat. Kalau orang tua sudah meninggal, maka kurban hanya bisa dilakukan bila orang tua semasa hidupnya memang mampu dan berpesan (wasiat) untuk berkurban.

Kulit Dijual Lagi

Tak jarang panitia menjual kulit hewan kurban untuk kas masjid. Tentu saja hal ini tidak boleh dilakukan, karena hewan kurban adalah hak fakir miskin. Hal yang boleh dilakukan adalah menjual kembali kulit hewan kurban, lalu diserahkan kepada fakir miskin dalam bentuk uang atau dibelikan daging.

Ada juga panitia yang menjual kulit hewan kurban, menyimpan uangnya, lalu dibelikan hewan kurban lagi pada tahun yang akan datang. Hal ini tidak bisa dianggap “sah” karena telah melewati batas waktu yang ditentukan. Analoginya mirip dengan memberikan zakat fitrah sesudah sholat Ied atau menjalankan sholat ashar pada waktu masuk isya’.

Latihan dan Arisan Kurban

Di sekolah-sekolah, para guru dan murid biasanya mengumpulkan iuran (misal Rp 20 ribu per orang) untuk dibelikan kurban. Ada yang kemudian dimasak dan dimakan bersama, namun ada pula yang dibagikan kepada fakir miskin. Alasannya biasanya klasik: agar murid berlatih kurban.

Sebenarnya, ada yang kurang pas disini. Tuntunan kurban sudah jelas, bahwa satu ekor kambing untuk satu orang. Namun, agar daging yang diperoleh bisa lebih banyak, kurban sapi bisa dibagi untuk 7 orang dan unta bisa untuk 10 orang—-bukan iuran Rp 20 ribu lalu sama-sama dibelikan kambing atau sapi.

Ada kalanya di suatu instansi dilakukan kurban dengan cara arisan. Walaupun agak nyeleneh, cara ini boleh saja dilakukan, asalkan para anggota arisan sudah masuk kategori mampu.

Hitungan dan Penerima Kurban

Orang sering mengartikan misalkan seseorang berkurban lima ekor sapi, maka satu ekor dihitung sebagai kurban dan empat sisanya merupakan shodaqoh. Tentu saja hal ini tidak benar, karena dasar hukum kurban adalah keikhlasan—-tidak seperti zakat yang sudah ditentukan besarannya dan bila sisa akan dihitung sebagai shodaqoh.

Selain itu, ada juga sebagian yang menganggap bahwa daging kurban hanya untuk umat Islam. Hal ini jelas salah besar, karena peruntukkan daging kurban adalah untuk fakir miskin—-tanpa membedakan muslim dan non muslim. Menurut saya, justru dengan memberikan daging kurban kepada mereka yang non muslim akan menjadi salah satu selling point (syi’ar) agama.

Shohibul kurban memang berhak menunjuk penerima kurban, namun tentu saja harus memenuhi kriteria miskin dan sengsara.

Saran dan Himbauan

Kurban sejatinya merupakan ujian keikhlasan kita, jadi jangan berusaha untuk “bermain” atau “mengakali” ibadah kurban kalau tidak berani menanggung dosanya. Sebagaimana tertulis dalam QS Al-Anfal 28 dan At-Taghaabun 15, harta hanyalah cobaan buat kita. Ibrahim saja ikhlas diminta anaknya, masa kita hanya diminta sedikit harta saja sudah ribut nggak karuan?

Walaupun daging kurban boleh diambil oleh shohibul kurban sebagian, namun alangkah lebih baik bila diikhlaskan saja seluruhnya untuk fakir miskin. Selain itu, sangat memalukan bila shohibul kurban “nggondeli” untuk mendapatkan bagian daging kurban tertentu—-apalagi bila sampai terjadi saling rebut dan “cakar-cakaran.” Nabi Ibrahim saja mengikhlaskan seluruh bagian tubuh Ismail, masa kita nggak?

Lebih dari itu, kisah nabi Ibrahim sebenarnya juga mengajarkan kita akan keluarga yang sakinah. Ibrahim mendapat ujian dari Allah SWT, namun mau berkomunikasi dan meminta pendapat dengan anak dan istrinya. Di sisi lain, anak dan istrinya menghormati dan mendukung keputusan ayahnya, sehingga terjalin sinergi yang apik dalam keluarga tersebut.

Model keluarga Ibrahim inilah yang seharusnya kita contoh. Keikhlasan menjadi laying foundation dalam kehidupan berkeluarga. Anak menghormati orang tua, sementara orang tua juga menghormati anaknya. Orang tua mendidik anak dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang, sementara anak mendengarkan dan mematuhi nasehat orang tua di jalan Allah SWT.

Sapi Kurban Amanah Bersama , Insyaallah siap menyediakan Jual Sapi Kurban yang sesuai dengan syariah

Silahkan Hubungi Kami :

Silahkan Hubungi Kami :

Statistik Pengunjung