Sapi Kurban Amanah Bersama
Jual Sapi Kurban Paling Lengkap & Terpercaya

Sapi Kurban

Page 2 of 212

Salah Kaprah Dalam Ibadah Kurban

Sebagai mana diketahui bersama bahwa ibadah Kurban adalah kegiatan penyembelihan hewan yang dilaksanakan  pada hari raya idul kurban  dan tiga hari kemudian pada tanggal 10-13 Dzulhijah (hari tasyrik) sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT. Ibadah kurban dilakukan bertujuan untuk menggembirakan kaum fakir miskin, sama halnya pada hari Idul Fitri dimana kaum fakir miskin digembirakan dengan adanya zakat fitrah.

Ibadah Kurban hukumnya adalah sunah bagi yang tidak mampu dan wajib bagi yang mampu. Dalam QS Al-Kautsar 1-2 disebutkan bahwa kurban dianggap “sejajar” dengan sholat. Apabila kita sudah diberi nikmat (mampu) kita diperintahkan untuk berkurban. Selain itu, nadzar untuk berkurban juga bisa menjadikan kurban sebagai wajib walaupun sebenarnya belum bisa dikatakan mampu.

Dalam hal apakah seseorang dikatakan mampu atau tidak adalah menurut hadist berarti umat Islam yang cukup baligh dan berakal. Dan dari segi materi berarti mempunyai penghasilan melebihi nisab sebesar 93,6 gram emas atau sekira Rp 20 juta per tahun atau Rp 1,6 juta per bulan).

Namun dalam perjalannya  kurban telah mengalami banyak pergeseran yang mungkin sudah tidak sesuai dengan tuntunannya.Hal-hal berikutnya yang menjadi dasar pertimbangannya

1.Dilakukannya Pesta Daging Besar-besaran

Fenomena yang terjadi saat ini, kurban bukan untuk menggembirakan fakir miskin, melainkan menjadi pesta daging besar-besaran. Yang jamak terjadi, daging kurban dibagikan kepada semua warga. Tak jarang seorang warga bisa mendapat jatah dobel. Si bapak sebagai shohibul dapat jatah, anaknya yang menjadi panitia mendapat bagian, istrinya yang membantu memasak juga dapat bagian. Belum lagi rumah mereka yang ada di perbatasan sehingga dapat jatah dari kelurahan A dan kelurahan B.

Padahal, dalam QS Al-Hajj 28 disebutkan dengan sangat jelas, “Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir.” Kalau seluruh warga adalah fakir miskin, tidak masalah. Namun kalau tidak, tentu ini sudah menyalahi firman.

Dalam suatu hadist, disebutkan bahwa shohibul kurban berhak mendapat 1/3 bagian. Namun, karena kurban adalah soal keikhlasan dan shohibul kurban sehari-harinya (dianggap) sudah terbiasa makan daging, maka alangkah baiknya bila seluruh daging kurban diserahkan saja kepada fakir miskin.

2.Panitia Mendapat Bagian daging kurban

Seperti sudah ditulis di atas, QS Al-Hajj 28 menyatakan bahwa orang yang berhak memakan daging kurban hanya fakir miskin dan orang yang berkurban. Panitia tidak mendapat hak atas daging kurban. Bandingkan dengan zakat. Dalam QS At-Taubah 60 disebutkan bahwa pengurus zakat berhak mendapat bagian.

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.”

Karenanya, alangkah lebih baik bila panitia, penyembelih, dan pengurus yang terlibat dalam kegiatan tersebut tidak meminta bayaran karena semua merupakan hak fakir miskin. Bagian panitia bisa saja diambilkan dari bagian shohibul, tetapi dengan ijin. Atau, saweran saja di antara para shohibul untuk memberi “uang lelah” kepada panitia.

Kurban Atas Nama

Seringkali kita melihat kurban yang dilakukan dengan mengatasnamakan anak, istri, atau orang tua. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan mengatasnamakan kurban untuk anak atau istri—-asalkan mereka mampu.

Lagipula, berkaca pada cerita Nabi Ibrahim, kerjasama antara beliau, istrinya, dan Ismail, menunjukkan bahwa kurban bukan ibadah “sendirian.” Apabila dilakukan dengan ikhlas dan benar, insya Allah semua anggota keluarga juga ikut mendapatkan pahala.

Bagaimana dengan orang tua? Apabila orang tua belum mampu, maka anak harus “memampukan” orang tua, dengan cara memberikan sebesar nisab plus zakat. Kalau orang tua sudah meninggal, maka kurban hanya bisa dilakukan bila orang tua semasa hidupnya memang mampu dan berpesan (wasiat) untuk berkurban.

Kulit Dijual Lagi

Tak jarang panitia menjual kulit hewan kurban untuk kas masjid. Tentu saja hal ini tidak boleh dilakukan, karena hewan kurban adalah hak fakir miskin. Hal yang boleh dilakukan adalah menjual kembali kulit hewan kurban, lalu diserahkan kepada fakir miskin dalam bentuk uang atau dibelikan daging.

Ada juga panitia yang menjual kulit hewan kurban, menyimpan uangnya, lalu dibelikan hewan kurban lagi pada tahun yang akan datang. Hal ini tidak bisa dianggap “sah” karena telah melewati batas waktu yang ditentukan. Analoginya mirip dengan memberikan zakat fitrah sesudah sholat Ied atau menjalankan sholat ashar pada waktu masuk isya’.

Latihan dan Arisan Kurban

Di sekolah-sekolah, para guru dan murid biasanya mengumpulkan iuran (misal Rp 20 ribu per orang) untuk dibelikan kurban. Ada yang kemudian dimasak dan dimakan bersama, namun ada pula yang dibagikan kepada fakir miskin. Alasannya biasanya klasik: agar murid berlatih kurban.

Sebenarnya, ada yang kurang pas disini. Tuntunan kurban sudah jelas, bahwa satu ekor kambing untuk satu orang. Namun, agar daging yang diperoleh bisa lebih banyak, kurban sapi bisa dibagi untuk 7 orang dan unta bisa untuk 10 orang—-bukan iuran Rp 20 ribu lalu sama-sama dibelikan kambing atau sapi.

Ada kalanya di suatu instansi dilakukan kurban dengan cara arisan. Walaupun agak nyeleneh, cara ini boleh saja dilakukan, asalkan para anggota arisan sudah masuk kategori mampu.

Hitungan dan Penerima Kurban

Orang sering mengartikan misalkan seseorang berkurban lima ekor sapi, maka satu ekor dihitung sebagai kurban dan empat sisanya merupakan shodaqoh. Tentu saja hal ini tidak benar, karena dasar hukum kurban adalah keikhlasan—-tidak seperti zakat yang sudah ditentukan besarannya dan bila sisa akan dihitung sebagai shodaqoh.

Selain itu, ada juga sebagian yang menganggap bahwa daging kurban hanya untuk umat Islam. Hal ini jelas salah besar, karena peruntukkan daging kurban adalah untuk fakir miskin—-tanpa membedakan muslim dan non muslim. Menurut saya, justru dengan memberikan daging kurban kepada mereka yang non muslim akan menjadi salah satu selling point (syi’ar) agama.

Shohibul kurban memang berhak menunjuk penerima kurban, namun tentu saja harus memenuhi kriteria miskin dan sengsara.

Saran dan Himbauan

Kurban sejatinya merupakan ujian keikhlasan kita, jadi jangan berusaha untuk “bermain” atau “mengakali” ibadah kurban kalau tidak berani menanggung dosanya. Sebagaimana tertulis dalam QS Al-Anfal 28 dan At-Taghaabun 15, harta hanyalah cobaan buat kita. Ibrahim saja ikhlas diminta anaknya, masa kita hanya diminta sedikit harta saja sudah ribut nggak karuan?

Walaupun daging kurban boleh diambil oleh shohibul kurban sebagian, namun alangkah lebih baik bila diikhlaskan saja seluruhnya untuk fakir miskin. Selain itu, sangat memalukan bila shohibul kurban “nggondeli” untuk mendapatkan bagian daging kurban tertentu—-apalagi bila sampai terjadi saling rebut dan “cakar-cakaran.” Nabi Ibrahim saja mengikhlaskan seluruh bagian tubuh Ismail, masa kita nggak?

Lebih dari itu, kisah nabi Ibrahim sebenarnya juga mengajarkan kita akan keluarga yang sakinah. Ibrahim mendapat ujian dari Allah SWT, namun mau berkomunikasi dan meminta pendapat dengan anak dan istrinya. Di sisi lain, anak dan istrinya menghormati dan mendukung keputusan ayahnya, sehingga terjalin sinergi yang apik dalam keluarga tersebut.

Model keluarga Ibrahim inilah yang seharusnya kita contoh. Keikhlasan menjadi laying foundation dalam kehidupan berkeluarga. Anak menghormati orang tua, sementara orang tua juga menghormati anaknya. Orang tua mendidik anak dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang, sementara anak mendengarkan dan mematuhi nasehat orang tua di jalan Allah SWT.

Sapi Kurban Amanah Bersama , Insyaallah siap menyediakan Jual Sapi Kurban yang sesuai dengan syariah

Trend Bisnis Penjualan Sapi Kurban 2013

Trend Bisnis Penjualan Sapi Qurban 2013

Pada Hari Raya Idhul Qurban tinggal beberapa hari lagi. Berkaitan dengan perayaan hari tersebut pastinya akan marak , trend bisnis penjualan / jual sapi qurban meningkat dengan hadirnya para pedagang sapi Qurban atau kambing. Dimana-mana tercium aroma kambing dan sapi Qurban. Makin hari makin tinggi tingkat penjualan sapi Qurban atau kambing Qurban sebelum Hari Raya Idul Adha

 

Jual Sapi Qurban 2013Dan sekarang Trend Bisnis Penjualan Sapi Qurban 2013 jual sapi qurban tidak hanya dilakukan secara off line atau face to face, tetapi perdagangan sapi / kambing qurban dilakukan secara online. Antara pedagang dan pembeli sapi qurban hanya dipertemukan dengan media online. Pedagang sapi qurban memampangkan foto sapi, harga dan no hp sebagai alat media komunikasi . dan deal pembelian pun terjadi saat pedagang  menerima transfer uang seharga sapi yang dibeli oleh pembeli.sangat mudah dan simpel.

 

Dengan mencermati trend bisnis Trend Bisnis Penjualan Sapi Qurban 2013 secara online, tentunya diharapkan pembeli mendapatkan kemudahan. kemudahan untuk memilih sapi qurban yang diinginkan, mendapatkan harga yang pantas dan mendapatkan pelayanan yang baik. Tetapi kehati-hatian  pihak pembeli juga sangat diperlukan, sehingga tidak terjebak dengan iming-iming harga murah tetapi mendapat sapi qurban yang jauh dari layak untuk dijadikan sebagai ibadah persembahan kepada Allah SWT.

 

Trend Penjualan Sapi Qurban Tahun 2013

 

Amanah Bersama sebagai salah satu penyedia sapi qurban telah membuka layanan penjualan sapi kurban online dengan media blog yang sedang anda sekarang. Pastikan anda membeli sapi kurban melalui kami. Dengan pengalaman lebih dari 6 tahun kami sudah memasok sapi untuk kebutuhan hari raya idul fitri. Insyaallah kami akan melayani anda dengan tingkat kepuasan yang tinggi : sapi kualitas nomor satu, harga yang pantas dan pelayanan yang prima.

 

Anda bisa memesan sapi kurban kepada kami dengan bapak Nurhamid HP : 087778888530 Email : amanahbersama99@gmail.com atau melalui facebook  http://www.facebook.com/masnurhamid .

 

Raih kesempurnaan ibadah kurban anda dengan kami : Amanah Bersama : Trend Bisnis Penjualan Sapi Kurban 2012

Cara Mengelola Daging Hewan Kurban

Cara Mengelola Daging Hewan Kurban, Pastikan dan yakinkan hewan kurban yang disembelih sudah mati. Setelah itu hewan kurban tesebut diurus atau ditangani mulai dari pengulitan dan pemotongan. Karena hukumnya makruh jika mengurus hewan kurban sebelum nafasnya habis serta aliran darahnya berhenti (Al Jabari, 1994).

Dan secara fisik juga hewan yang sudah disembelih tapi belum mati maka otot-ototnya juga sedang berkontraksi karena stress. Oleh sebab itu andai dipaksakan dikuliti dan Jika dalam kondisi demikian dilakukan pengulitan dan pemotongan, dagingnya akan keras alias tidak empuk.

Cara Mengelola Daging Hewan Kurban

Cara Mengelola Daging Hewan Kurban

Cara Mengelola Daging Hewan Kurban, Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana cara mengelola daging hewan kurban dari mulai daging, kulit sampai kepala ? Intinya adalah hukumnya sunnah bagi orang yang berkurban untuk memakan daging kurban serta yang terpenting menyedekahkannya kepada yang berhak yaitu orang-orang fakir serta menghadiahkan kepada kaum kerabat, keluargat. Nabi Muhammad SAW bersabda :“Makanlah daging kurban itu, dan berikanlah kepada fakir-miskin, dan simpanlah.” (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi, hadits shahih)

 

Dari hadits di atas, maka pengelolaan daging kurban dilakukan menjadi 3 cara :

1.Makanlah

2.Berikanlah kepada fakir miskin

3.Simpanlah.

Tetapi ketentuan ini sifatnya tidak mutlak / wajib, tapi mubah (lihat Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid I/352; Al Jabari, 1994; Sayyid Sabiq, 1987).

Berdasarkan hadist di atas dapat disimpulkan bahwa orang yang berkurban, disunnahkan untuk ikut memakan daging kurbannya. Boleh pula mengambil seluruhnya untuk dirinya sendiri. Jika diberikan semua kepada fakir-miskin, menurut Imam Al Ghazali, lebih baik. Dianjurkan pula untuk menyimpan untuk diri sendiri, atau untuk keluarga, tetangga, dan teman karib (Al Jabari, 1994; Rifa’i et.al, 1978).

Tetapi lain halnya jika daging kurban tersebut sebagai nadzar, maka wajib diberikan semua kepada fakir-miskin dan yang berkurban diharamkan memakannya, atau menjualnya (Ad Dimasyqi, 1993; Matdawam, 1984)

Tentang kemana daging kurban tersebut akan didistribusikan kepada fakir dan miskin, maka boleh didistribusikan hingga ke luar desa atau tempat dari tempat penyembelihan (Al Jabari, 1994).

Muncul pertanyaan, apakah boleh membagikan daging kurban kepada yang bukan muslim ? Ibnu Qudamah (mazhab Hambali) dan yang lainnya (Al Hasan dan Abu Tsaur, dan segolongan ulama Hanafiyah) mengatakan boleh. Namun menurut Imam Malik dan Al Laits, lebih utama diberikan kepada muslim (Al Jabari, 1994).

Yang menyembelih tidak boleh diberi upah dari kurban tersebut. Seandainya mau memberi upah, maka hendaklah berasal dari orang yang berkurban dan bukan dari kurban (Abdurrahman, 1990). Hal tersebut sesuai dengan hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Ali bin Abi Thalib RA :“…(Rasulullah memerintahkan kepadaku) untuk tidak memberikan kepada penyembelih sesuatu daripadanya (hewan kurban).“ (HR. Bukhari dan Muslim) (Al Jabari, 1994)

Hal yang berbeda jika penyembeliah tersebut masuk kategori orang fakir atau miskin, dia berhak diberi daging kurban. Namun pemberian ini bukan upah karena dia jagal, melainkan sedekah karena dia miskin atau fakir (Al Jabari, 19984).

Hal penting lainnya adalah perihal penjualan kulit hewan kurban adalah haram, demikianlah pendapat jumhur ulama (Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid I/352). Dalilnya sabda Nabi SAW :

“Dan janganlah kalian menjual daging hadyu (kurban orang haji) dan daging kurban. Makanlah dan sedekahkanlah dagingnya itu, ambillah manfaat kulitnya, dan jangan kamu menjualnya…” (HR. Ahmad) (Matdawam, 1984).

Sebagian ulama seperti segolongan penganut mazhab Hanafi, Al Hasan, dan Al Auza’i membolehkannya. Tapi pendapat yang lebih kuat, dan berhati-hati (ihtiyath), adalah janganlah orang yang berkurban menjual kulit hewan kurban. Imam Ahmad bin Hambal sampai berkata,”Subhanallah ! Bagaimana harus menjual kulit hewan kurban, padahal ia telah dijadikan sebagai milik Allah ?” (Al Jabari, 1994).

Untuk pemanfaatan kulit hewan dapat dihibahkan atau disedekahkan kepada orang fakir miskin. Dan hukumnya boleh andai orang fakir dan miskin itu menjualnya. Dengan alasan  larangan menjual kulit hewan kurban hanya ditujukan kepada orang yang berkurban. Artinya laranagn ini tidak berlaku kepada orang fakir atau miskin yang diberi sedekah kulit hewan oleh orang yang berkurban. Pemanfaatan lain dari kulit hewan itu bisa untuk kepentingan bersama, seperti untuk dibuat alas duduk atau sajadah atau untuk dibuat  kaligrafi Islami dan lain-lain.

Itulah Cara Mengelola Daging Hewan Kurban yang baik dan benar. Amanah bersama menjual sapi kurban 2012

 

 

Silahkan Hubungi Kami :

Silahkan Hubungi Kami :

Statistik Pengunjung