Sapi Kurban Amanah Bersama
Jual Sapi Kurban Paling Lengkap & Terpercaya

Sapi Kurban

Page 2 of 212

Cara Mengelola Daging Hewan Kurban

Cara Mengelola Daging Hewan Kurban, Pastikan dan yakinkan hewan kurban yang disembelih sudah mati. Setelah itu hewan kurban tesebut diurus atau ditangani mulai dari pengulitan dan pemotongan. Karena hukumnya makruh jika mengurus hewan kurban sebelum nafasnya habis serta aliran darahnya berhenti (Al Jabari, 1994).

Dan secara fisik juga hewan yang sudah disembelih tapi belum mati maka otot-ototnya juga sedang berkontraksi karena stress. Oleh sebab itu andai dipaksakan dikuliti dan Jika dalam kondisi demikian dilakukan pengulitan dan pemotongan, dagingnya akan keras alias tidak empuk.

Cara Mengelola Daging Hewan Kurban

Cara Mengelola Daging Hewan Kurban

Cara Mengelola Daging Hewan Kurban, Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana cara mengelola daging hewan kurban dari mulai daging, kulit sampai kepala ? Intinya adalah hukumnya sunnah bagi orang yang berkurban untuk memakan daging kurban serta yang terpenting menyedekahkannya kepada yang berhak yaitu orang-orang fakir serta menghadiahkan kepada kaum kerabat, keluargat. Nabi Muhammad SAW bersabda :“Makanlah daging kurban itu, dan berikanlah kepada fakir-miskin, dan simpanlah.” (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi, hadits shahih)

 

Dari hadits di atas, maka pengelolaan daging kurban dilakukan menjadi 3 cara :

1.Makanlah

2.Berikanlah kepada fakir miskin

3.Simpanlah.

Tetapi ketentuan ini sifatnya tidak mutlak / wajib, tapi mubah (lihat Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid I/352; Al Jabari, 1994; Sayyid Sabiq, 1987).

Berdasarkan hadist di atas dapat disimpulkan bahwa orang yang berkurban, disunnahkan untuk ikut memakan daging kurbannya. Boleh pula mengambil seluruhnya untuk dirinya sendiri. Jika diberikan semua kepada fakir-miskin, menurut Imam Al Ghazali, lebih baik. Dianjurkan pula untuk menyimpan untuk diri sendiri, atau untuk keluarga, tetangga, dan teman karib (Al Jabari, 1994; Rifa’i et.al, 1978).

Tetapi lain halnya jika daging kurban tersebut sebagai nadzar, maka wajib diberikan semua kepada fakir-miskin dan yang berkurban diharamkan memakannya, atau menjualnya (Ad Dimasyqi, 1993; Matdawam, 1984)

Tentang kemana daging kurban tersebut akan didistribusikan kepada fakir dan miskin, maka boleh didistribusikan hingga ke luar desa atau tempat dari tempat penyembelihan (Al Jabari, 1994).

Muncul pertanyaan, apakah boleh membagikan daging kurban kepada yang bukan muslim ? Ibnu Qudamah (mazhab Hambali) dan yang lainnya (Al Hasan dan Abu Tsaur, dan segolongan ulama Hanafiyah) mengatakan boleh. Namun menurut Imam Malik dan Al Laits, lebih utama diberikan kepada muslim (Al Jabari, 1994).

Yang menyembelih tidak boleh diberi upah dari kurban tersebut. Seandainya mau memberi upah, maka hendaklah berasal dari orang yang berkurban dan bukan dari kurban (Abdurrahman, 1990). Hal tersebut sesuai dengan hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan Ali bin Abi Thalib RA :“…(Rasulullah memerintahkan kepadaku) untuk tidak memberikan kepada penyembelih sesuatu daripadanya (hewan kurban).“ (HR. Bukhari dan Muslim) (Al Jabari, 1994)

Hal yang berbeda jika penyembeliah tersebut masuk kategori orang fakir atau miskin, dia berhak diberi daging kurban. Namun pemberian ini bukan upah karena dia jagal, melainkan sedekah karena dia miskin atau fakir (Al Jabari, 19984).

Hal penting lainnya adalah perihal penjualan kulit hewan kurban adalah haram, demikianlah pendapat jumhur ulama (Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid I/352). Dalilnya sabda Nabi SAW :

“Dan janganlah kalian menjual daging hadyu (kurban orang haji) dan daging kurban. Makanlah dan sedekahkanlah dagingnya itu, ambillah manfaat kulitnya, dan jangan kamu menjualnya…” (HR. Ahmad) (Matdawam, 1984).

Sebagian ulama seperti segolongan penganut mazhab Hanafi, Al Hasan, dan Al Auza’i membolehkannya. Tapi pendapat yang lebih kuat, dan berhati-hati (ihtiyath), adalah janganlah orang yang berkurban menjual kulit hewan kurban. Imam Ahmad bin Hambal sampai berkata,”Subhanallah ! Bagaimana harus menjual kulit hewan kurban, padahal ia telah dijadikan sebagai milik Allah ?” (Al Jabari, 1994).

Untuk pemanfaatan kulit hewan dapat dihibahkan atau disedekahkan kepada orang fakir miskin. Dan hukumnya boleh andai orang fakir dan miskin itu menjualnya. Dengan alasan  larangan menjual kulit hewan kurban hanya ditujukan kepada orang yang berkurban. Artinya laranagn ini tidak berlaku kepada orang fakir atau miskin yang diberi sedekah kulit hewan oleh orang yang berkurban. Pemanfaatan lain dari kulit hewan itu bisa untuk kepentingan bersama, seperti untuk dibuat alas duduk atau sajadah atau untuk dibuat  kaligrafi Islami dan lain-lain.

Itulah Cara Mengelola Daging Hewan Kurban yang baik dan benar. Amanah bersama menjual sapi kurban 2012

 

 

Silahkan Hubungi Kami :

Silahkan Hubungi Kami :

Statistik Pengunjung